Ada masa ketika sebuah kabar harus menunggu berhari-hari.
Seseorang menulis surat, melipatnya dengan rapi, memasukkannya ke dalam amplop, menempelkan perangko, lalu berharap surat itu benar-benar sampai kepada orang yang dituju.
Hari ini semuanya berubah.
Sebuah pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Email, WhatsApp, media sosial, hingga berbagai aplikasi percakapan membuat jarak seolah tidak lagi menjadi persoalan.
Namun ada satu hal yang ternyata tidak ikut berubah.
Kepercayaan.
Di antara seorang pengirim dan seorang penerima, selalu ada ruang yang tidak terlihat. Ruang itulah yang sering kali menentukan apakah sebuah pesan hanya sekadar terkirim, atau benar-benar sampai.
Dalam beberapa kesempatan, kami pernah menghubungi orang-orang yang bahkan belum pernah kami temui sebelumnya.
Ada yang melalui email.
Ada yang melalui WhatsApp.
Ada yang melalui formulir di sebuah website.
Tidak sedikit yang tidak langsung membalas.
Sebagian baru merespons beberapa hari kemudian.
Sebagian lagi mungkin tidak pernah membalas sama sekali.
Lucunya, justru dari beberapa pesan yang nyaris kami lupakan, akhirnya lahir sebuah percakapan, sebuah kerja sama, bahkan sebuah kepercayaan.
Pengalaman itu mengajarkan satu hal sederhana.
Teknologi memang mempercepat pengiriman pesan.
Tetapi teknologi tidak pernah bisa memaksa seseorang untuk percaya.
Kepercayaan tetap dibangun oleh manusia.
Melalui kesabaran.
Melalui cara menyampaikan pesan.
Melalui konsistensi.
Melalui niat baik yang terus dijaga.
Mungkin itulah sebabnya komunikasi tidak pernah sesederhana menekan tombol "Kirim".
Karena sesungguhnya, yang paling penting bukan hanya siapa pengirimnya dan siapa penerimanya.
Melainkan apa yang tumbuh di antara keduanya.
Dan ketika suatu hari sebuah pesan akhirnya mendapat balasan, sering kali yang berhasil menempuh perjalanan bukan sekadar kata-kata.
Melainkan kepercayaan.
Itulah yang, sedikit demi sedikit, kami pelajari dalam setiap perjalanan Duta Selat Sunda.
Artikel ini terinspirasi dari berbagai pengalaman komunikasi yang kami alami dalam menjalin hubungan dengan mitra, principal, media, dan berbagai pihak lainnya.